Belajar Ikhlas

Setelah sekian lama berhenti menulis, Insya Allah mulai sekarang saya niatkan untuk kembali menulis lagi. Alasannya sederhana, mencoba mengaktifkan hobi lama yang sempat terhenti karena berbagai kesibukan. Kebetulan sekarang juga sedang agak luang setelah tugas kuliah terakhir selesai. Kalau semua lancar dan semua mata kuliah semester ini lulus, Insya Allah Desember ini studi Master saya selesai dan saya kembali ke Indonesia. Memang ada rencana jangka panjang yang harus segera disiapkan. Tapi tak ada salahnya sesekali menarik diri dari hiruk pikuk rutinitas. Menuangkan buah pikiran, buah renungan, mengetikkannya ke dalam kata-kata, baris-baris kalimat dan paragraf. Harapannya, ada pelajaran yang bisa diambil, ada pandangan yang bisa didiskusikan, ada sesuatu yang bisa direnungkan atau bahkan diambil hikmahnya.

Ijinkan untuk mengawalinya, saya ingin berbicara sedikit tentang ikhlas. Kenapa demikian? Ada peristiwa yang membuat saya mempunyai pandangan baru dalam melihat kehidupan. Tak perlu saya sebutkan, tapi cukup membuat saya bepikir lama, berdialog dengan diri sendiri, dan tentu saja mengadu kepada Yang Maha Mengaturnya agar terjadi sedemikian adanya.

Setiap orang punya kesalahan. Banyak cela, banyak aib dan banyak dosa. Karena itu adalah sifat dasar kita sebagai manusia, tempat salah dan lupa. Kita harus bersyukur bahwa Allah masih menutup aib dan salah itu. Karena jika semua terbuka, maka tak mampulah kita menanggung malunya. Tapi jika kesalahan itu berhubungan dengan orang lain, sikap yang semestinya adalah meminta maaf dan mengakui kesalahan itu. Mungkin teman-teman yang satu generasi dengan saya masih ingat sebuah lagu dari film Petualangan Sherina 🙂
yang bunyinya:

“ Setiap manusia di dunia, pasti punya kesalahan.
Tapi hanya yang pemberani, yang mau mengakui.
Setiap manusia di dunia, pasti pernah sakit hati.
Hanya yang berjiwa satria, yang mau memaafkan.”

Kata-katanya sederhana, tapi sungguh sarat pesan dan kaya akan makna. Dan tentunya sangat bisa dijadikan refleksi terhadap kehidupan keseharian kita, apa pun masalahnya, baik itu masalah keluarga, pertemanan, bahkan hiruk pikuk dunia politik dan isu nasional. Tapi saya tak akan bicara sejauh itu, cukuplah yang sederhana dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ya, ketika sadar kita punya kesalahan terhadap seseorang atau beberapa orang atau banyak orang, harus berani mengakui dan meminta maaf. Di samping tentunya memohon ampun kepada Allah. Harus bisa melepaskan ego pribadi, mengubahnya menjadi kerendahan hati dan kelapangan jiwa. Tulus ikhlas meminta maaf, menjadikannya pelajaran dan berkomitmen penuh untuk tak mengulanginya lagi.

Idealnya, orang yang dimintai maaf pun bisa memaafkan dengan sepenuhnya. Namun ada kalanya bukan itu yang terjadi. Kadang bukan penyelesaian masalah yang dicapai, tapi masalah baru yang masih menjadi ganjalan. Maka di sanalah perlunya ikhlas.
Ketika orang memandang sebelah mata diri kita atas kesalahan yang pernah kita perbuat? Ikhlaslah.
Ketika orang tak mengacuhkan niat baik kita meminta maaf? Ikhlaslah.
Ketika orang tak lagi menganggap kita sebagai siapa-siapa? Ikhlaslah.
Ketika orang tak mau memperbaiki silaturahim? Ikhlaslah.
Ketika orang tak menganggap keberadaan kita? Ikhlaslah.

Jangan habiskan waktu, tenaga dan pikiran atas pandangan orang lain terhadap kita. Tak ada yang istimewa dari pandangan manusia, karena satu-satunya yang wajib diutamakan adalah pandangan Allah. Tugas kita berusaha, sisanya serahkan kepada Yang Maha Mengatur, dialah yang berkuasa atas semua, termasuk hati manusia.
Memang mudah bicara ikhlas, tapi menjalankan ikhlas itulah yang paling sulit.

Kita perlu latih diri kita, hati kita, untuk ikhlas atas ketetapan-Nya.
Salah satunya dengan tidak mengotori hati dengan membalas perbuatan buruk orang lain atas diri kita.

Jangan balas keburukan dengan keburukan,
jangan balas kejahatan dengan kejahatan,
jangan balas hinaan dengan hinaan,
jangan balas disepelekan dengan menyepelekan,
jangan balas dendam dengan dendam,
jangan balas diacuhkan dengan mengacuhkan,
jangan balas diputuskan silaturahmi dengan memutuskan silaturahmi,
jangan balas dipandang sebelah mata, dengan memandang sebelah mata,
jangan balas diremehkan, dengan meremehkan.

Balaslah semua dengan kebaikan.
Berpikirlah positif, berbuatlah positif,
teruskan langkah,
teruslah bergerak,
luruskan niat,
bersabarlah,
dan lakukan semua itu dengan ikhlas, karena Allah.

Kenapa demikian? Karena ketika Allah sudah menjadi tujuan utama, mudah saja menerima apa pun yang terjadi di dunia.
Ikhlas adalah puncak ketenangan.

Saat seseorang sudah ikhlas, dia tak akan sakit hati jika dihina atau direndahkan manusia.
Karena dia tahu, hanya Allah yang berhak untuk ditinggikan dan dimuliakan.

Tak akan terhina seseorang yang dihina manusia, jika di hatinya yakin bahwa dia hanya dapat hina di hadapan Allah. Bahwa hanya Allah-lah yang berhak atas kehinaan dirinya.

Tak akan rendah martabat seseorang yang direndahkan manusia, jika di hatinya yakin bahwa martabat dirinya hanya Allah-lah yang berhak menilai dan menentukan. Bahwa keadilan Allah adalah amat sempurna dalam hal ini.

Ikhlas adalah puncak keridhoan. Keridhoan atas apa pun yang telah ditakdirkan. Seberat apa pun masalah yang dihadapi. Sesulit apa pun cobaan yang dijalani. Ridho artinya rela dan menerima bahwa apa yang sudah ditakdirkan Allah melalui qodha dan qodar-Nya adalah yang terbaik baginya. Baik itu suka atau pun duka. Ridho bukan berarti menyerah pada keadaan. Justeru, ridho adalah sebuah cara untuk melangkah lebih jauh, naik kelas, menjadi pribadi yang lebih baik. Ridho adalah jalan introspeksi dan muhasabah diri, sebuah titik awal untuk berusaha memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya.

Ikhlas adalah sebuah awalan untuk hijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Seseorang yang hatinya ikhlas akan dengan mudah dan rela menerima hasil dari usaha terbaiknya, meskipun tidak sesuai dengan harapan di awal. Seseorang yang hatinya ikhlas, diberikan kesulitan dia bersabar, diberikan kemudahan dia bersyukur. Seseorang yang hatinya ikhlas, selalu yakin ada rencana terbaik yang disiapkan Allah untuknya.

Ikhlas adalah jalan untuk kembali pada-Nya. Dan jalan ini tidaklah mudah. Maka dari itu, belajar ikhlas adalah perjalanan seumur hidup, pelajaran seumur hidup, dan pekerjaan tetap sampai akhir hayat. Belajar ikhlas adalah upaya yang harus terus menerus dilakukan. Tak mengenal kesudahan kecuali waktu di dunia ini habis. Semoga Allah memudahkan upaya kita belajar ikhlas.

Wallahu alam bisshowab.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: