Arsitektur Indonesia Orde Baru dalam kacamata Ranah Politik dan Otoritas Rezim Soeharto

Arsitektur Indonesia Orde Baru dalam kacamata Ranah Politik dan Otoritas Rezim Soeharto

We have Joglo Architecture, which is more beautiful, why use foreign architecture? It’s in appropriate for this foreign architecture to be juxtaposed with the existing statue of our national hero. In essence, no matter how much it would cost (to replace the Greek façade with the Joglo one), I will be the one responsible because it is very important for the Pride of the Nation. (Soeharto)[1]

Berbicara mengenai arsitektur pada zaman Orde Baru, minimal ada dua pertanyaan yang mengemuka. Pertama, Bagaimanakah hubungan Stabilitas Nasional yang diusung politik Soeharto berpengaruh terhadap pergerakan Arsitektur Indonesia. Yang Kedua, dampak apakah yang muncul terhadap arsitektur modern Indonesia pada zaman orde baru dalam kaitannya dengan International Style dan kehidupan politik ekonomi Indonesia pada saat itu, terutama sampai dengan tahun 1990an awal.Arsitektur Indonesia adalah sebuah konsep yang tak pernah berhenti diperdebatkan. Jati diri arsitektur Indonesia sama tidak jelasnya dengan kemana arsitektur Indonesia akan bergerak. Perdebatan mengenai hal tersebut disebabkan oleh perbedaan pandapat mengenai seperti apa Arsitektur Indonesia sebetulnya. Setidaknya perbedaan pendapat itu terpolarisasi menjadi tiga faksi yang memandang arsitektur Indonesia secara berbeda. Pertama, mereka yang menganggap bahwa arsitektur Indonesia sebetulnya tidak perlu dicari-cari lagi identitasnya karena sudah terepresentasikan melalui arsitektur tradisional yang muncul pada rumah-rumah adat daerah. Sementara golongan yang kedua lebih bersikap skeptis dengan berpendapat bahwa arsitektur Indonesia sulit untuk mencapai karakter unik, karena modernitas akan menimbulkan universalitas, dan arsitektur itu akan berkembang bergantung kepada masyarakatnya. Dengan demikian, arsitektur adalah cerminan dari masyarakat. Yang ketiga bersikap lebih optimistis dengan memandang bahwa arsitektur Indonesia bergantung kepada komitmen, kritik, dan usaha untuk melakukan penilaian kembali terhadap nilai-nilai kebudayaan atau culture bangsa. Perbedaan pendapat ini muncul sebagai bagian dari perkembangan zaman yang ditentukan oleh banyak variabel terkait dengan kondisi dan perkembagan kehidupan politik sosial ekonomi dll dari Bangsa Indonesia itu sendiri.Terlepas dari semua pendapat yang muncul, agaknya perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap sejauh mana keadaan politik pemerintahan Orde Baru berpengaruh terhadap perkembangan Arsitektur Indonesia. Soeharto setidaknya memiliki prinsip bahwa Arsitektur Joglo jauh lebih baik daripada Fasade Yunani (sebagaimana disebutkan dalam kutipan di awal). Meskipun, dalam hal ini Soeharto selama 30 tahun lebih kekuasaannya tidak pernah mengubah istana negara menjadi bentuk joglo, dia mempunyai keinginan sendiri, semacam ambisi untuk mendefinisikan sendiri arsitektur Indonesia seperti apa yang dia inginkan. Harus diakui, era Soeharto adalah era stabilitas nasional. Perekonomian meningkat, swa sembada pangan, kehidupan yang lempeng-lempeng saja. Namun di balik itu, sejarah juga mencatat bahwa banyak kekurangan pada rezim Soeharto. Bagaimanakah pengaruh ‘stabilitas nasional’ terhadap arsitektur Indonesia? Berikut setetes pendapat mengenai hal tersebut.

Stabilitas Nasional Orde Baru dan Arsitektur Indonesia

Sebagai rezim Post-Nasakom, orde baru membawa perubahan yang besar terhadap kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan Indonesia, termasuk dalam hal arsitektur. Kajian mengenai perubahan kehidupan arsitektur Indonesia tidak terlepas dari perkembangan politik. Sebagai Bapak Pembangunan yang memiliki kekuatan penuh, terutama kekuatan militer yang diikuti kekuatan politik melalui Golkar, Soeharto mulai menciptakan identitas arsitekturnya sendiri. Lubang Buaya menjadi contoh paling nyata dalam penciptaan platform arsitektur baru yang kental dengan nuansa politis. Pembangunan monumen yang diciptakan untuk pengingatan akan tragedi G/30 S-PKI itu merupakan salah satu bagian dari kepentingan Orde Baru.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah salah satu proyek besar Soeharto pada Orde Baru dalam mencitrakan identitas ke-Indonesia-an yang baru. Sampai sekarang, Taman Mini masih oleh beberapa orang masih dianggap sebagai ‘wajah Indonesia’. Meskipun banyak dari bangunan-bangunan yang ada di TMII mengadopsi secara langsung bentuk rumah adat tradisional, namun tetap saja spirit of place dari rumah-rumah tradisional Indonesia tidak dapat dihadirkan dengan baik. Pembangunan Taman Mini adalah bentuk Image Building Soeharto.Salah satu proyek stabilisasi nasional yang terejawantah secara arsitektural adalah Mesjid yang dibangun oleh Yayasan Amal Mesjid Pancasila (yang dibangun dengan menggunakan bentuk dasar menyerupai Masjid Agung Demak). Proyek yang berhasil membangun sebanyak lebih dari 800 mesjid dengan bentuk yang serupa di seluruh penjuru Nusantara. Di ujung atap Mesjid terdapat bentuk segilima. Terlepas dari pro-kontra makna segilima terebut, Pancasila adalah dasar negara yang diagung-agungkan sebagai asas tunggal oleh Soeharto.Meskipun Soeharto melakukan pembangunan proyek-proyek yang bertujuan untuk mencitrakan identitas Indonesia, derasnya laju kapitalisme dan globalisasi yang disambut hangat oleh pemerintahan Soeharto yang membuka keran yang selebar-lebarnya bagi investor asing dan pinjaman luar negeri untuk membangun berbagai properti dan infrastruktur di negeri ini. Akibatnya, muncul berbagai bangunan yang muncul dengan bentuk yang ‘entah dari mana’. Atau muncul bangunan-bangunan aneh yang sangat tidak proporsional ide dan bentuk fisiknya. Contohnya, Gedung Hanurata yang menjadi sebuah “skyscrapper bertopi”.Yang pasti, Orde Baru adalah sebuah masa yang berbeda jauh dengan Soekarno. Soerkarno, dengan demokrasi terpimpin-nya lebih dapat menciptakan karakter dan identitas yang konsisten dibandingkan dengan Soeharto pada masa orde baru-nya dengan demokrasi-pancasila (baca: otokrasi).

Arsitektur Modern Indonesia Orde Baru 1990an dan International Style.

Apa yang terjadi dengan International Style di Indonesia pada masa Orde Baru? Jawabannya, berkembang dengan cepat. Gaya-gaya yang muncul di dunia internasional dengan cepatnya dapat masuk ke Indonesia. Era tahun 1990an adalah kebangkitan pembangunan Ibukota. Jakarta semakin banyak ditumbuhi hutan beton. Gedung-gedung pencakar langit didirikan. Investasi besar-besaran di Indonesia membutuhkan banyak gedung-gedung baru untuk menampung kegiatan perkantoran dll. Liberalisasi ekonomi yang menjadikan Jakarta kota metropolitan dengan tingkat pertumbuhan yang cepat. Terlepas dari berbagai dampak permasalahan sosial yang muncul, seperti gap yang terlalu jauh antara sebagian kecil penguasa dengan sebagian besar rakyat, gaya-gaya arsitektur yang muncul pada bangunan-bangunan pencakar langit banyak yang menyerupai bangunan-bangunan modern lainnya di berbagai kota-kota besar dunia, terutama Eropa dan Amerika. Tren ini muncul bukan hanya di Indonesia tapi juga di negara lainnya seperti Malaysia yang mulai membangun menara kembar Petronas pada tahun 1995. Pembangunannya hampir bersamaan dengan BNI 26 yang rampung tahun 1996. Simbol hegemoni dunia bisnis dan perekonomian tercermin kuat dengan semakin sesaknya ibukota dengan bangunan-bangunan tinggi.Bangunan dengan konstruksi baja dan fasade dipenuhi oleh kaca muncul di mana-mana. Kawasan segitiga emas (Thamrin, Sudirman, dan Gatot Subroto) adalah pusat pertuumbuhannya. Jakarta berubah menjadi kota Metropolitan yang mengandung bangunan-bangunan tinggi nan materialistis. Ironisnya, bangunan tinggi itu muncul di antara perkampungan rakyat atau bahkan permukiman kumuh.Di sisi lain, muncul pembaharuan dalam arsitektur dengan berdirinya AMI (Arsitek Muda Indonesia), yang salah satu pendirinya adalah Yori Antar. Para arsitek muda inilah yang menjadi cikal bakal pembaharuan yang mewarnai dunia arsitektur Indonesia menjadi lebih kaya, lebih hidup dan lebih bebas. Apalagi setelah bergulirnya reformasi, setelah otokrasi berakhir (setelah pendapat tidak lagi ‘dilarang’). ****

 

 



[1] Tempo (1 September 1984) hlm. 18, dikutip dari Abidin Kusno, Behind the Postcolonial (London: Routledge, 2000 hlm. 81)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: