Pemimpin Bukan Penguasa, Pemberi Bukan Peminta

(Rachmat Rhamdhani Fauzi)

 

Menyimak perkataan Pak Arif Munandar dalam Training Pengembangan Diri membuat saya tersentak. “To be a leader is to give, not to take”, kira-kira begitulah apa yang dia sampaikan. Sungguh sebuah rangkaian kata yang sangat sederhana namun sarat makna. Kata-kata itu bukan sekadar rangkaian frasa tanpa arti. Bagi saya, itu bukan sekadar pesan atau nasihat tapi juga sebuah obat mujarab bagi krisis kepemimpinan di negeri ini. Menjadi pemimpin berarti memberi, bukan meminta apalagi mengambil.

Saya teringat kepada sesuatu yang tidak lagi saya ingat, yaitu pada suatu saat dulu dimana saya belum mengetahui apa-apa tentang dunia. Saya tidak lagi ingat bahwa Pencipta saya telah menciptakan saya sebagai seorang makhluk yang memang ditakdirkan untuk memimpin. Saya tidak lagi ingat bahwa khalifah-lah sebutan yang diberikan oleh-Nya. Tetapi saya yakin bahwa itulah yang terjadi, sama yakinnya dengan kenyataan bahwa keluarga saya, setiap teman yang saya kenal, dan semua manusia yang pernah hidup di dunia ini ditugasi hal yang sama oleh Sang Khalik, yaitu menjadi seorang pemimpin.

Sungguh sebuah anugerah yang tiada ternilai bagi kita, manusia, dijadikan oleh Rabb Semesta Alam sebagai makhluk paling sempurna dan satu-satunya makhluk yang dipercayai untuk mengemban amanah sebagai seorang khilafah. Dan alangkah durhakanya kita jika amanah itu disia-siakan. Sesungguhnya setiap diri seorang insan adalahj seorang pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Terminologi pemimpin ini sepintas terdengar sederhana, namun di situ banyak terdapat. tanggung jawab yang tidak sederhana untuk dilaksanakan.

Pemimpin bukanlah penguasa. Kekuasaan adalah bukan tujuan utama dalam menjalankan suatu kepemimpinan. Makna kekuasaan bukan tujuan utama disini adalah bukan mengenyampingkan kekuasaan sebagai hal yang tidak penting. Kekuasaan mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk menjalankan kepemimpinannya. Namun, kekuasaan tidak sepatutnya dijadikan sebagai tujuan akhir atau sebagai motivasi utama dari kepemimpinan yang dijalankan. Kekuasaan hanyalah sebatas sarana yang digunakan, bukan sebagai cita-cita utama.

Seorang pemimpin seharusnya tidak dikuasai oleh kekuasaan, tetapi seharusnya kekuasaan itulah yang seharusnya dikuasai oleh seorang pemimpin. Dengan demikian, seorang pemimpin sepatutnya bukan bernafsu untuk menguasai, tetapi dia selalu sadar bahwa dia bukanlah pemilik kekuasaan yang sebenar-benarnya. Seorang pemimpin sewajibnya sadar bahwa kekuasaan yang ada padanya harus digunakan sebaik-baiknya agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya terhadap apa yang dipimpin olehnya.

Pemimpin sejati adalah seorang pemberi, bukan penerima atau pengambil. Dia tidak mengharapkan apa-apa dari kekuasaan yang dimilikinya. Justeru setiap waktunya dia gunakan untuk berpikir hal apa lagi yang dapat dia sumbangkan dari apa yang dimiliki olehnya. Kekuasaan tidak dipakai sebagai modal untuk mengambil dan mengambil, tetapi kekuasaan digunakan sebagai modal untuk terus memberikan yang terbaik dari kepemimpinannya.

Lantas, sampailah pada pertanyaan yang sungguh sangat sederhana namun saya yakin sebagian kita di negeri ini yang merasa pemimpin sangat sukar untuk menjawab dengan mengikuti kata hatinya. Pertanyaan itu adalah, “Sudahkah anda menjadi pemimpin sejati yang selalu berpikir untuk memberi daripada mengambil apa yang ada dari kekuasaan yang anda miliki?” Mungkin sebagian dari kita merasa pertanyaan itu terlalu tidak penting untuk ditanyakan. Atau mungkin sebagian kita menolak untuk menjawabnya karena mengaku sibuk dengan urusannya yang harus dikerjakan sebagai orang yang sibuk, sebagai “pemimpin”?

Orang-orang negeri ini, terlebih para pemimpinnya, sebaiknya bertanya pada dirinya sendiri mengenai pertanyaan sederhana di atas sesering mungkin. Maka, hanya ada dua kemungkinan yang akan muncul dalam hati. Jawaban itu adalah “Ya! Saya sudah memberi sebisa mungkin dari apa yang saya punya” atau “Tidak! Selama ini kekuasaan yang saya dapatkan saya gunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan saya dan keluarga saya sendiri.” Sekarang pertanyaan itu lebih baik juga ditanyakan kepada diri kita sendiri, dalam konteks kepemimpinan apapun kita berada. Maka jawaban yang manakah yang akan dikatakan oleh setiap hati-hati kita.

 

Depok, 9 Oktober 2006

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: