NUKLIR SEBAGAI SIMBOL KEDAULATAN SUATU NEGARA

Kita mungkin masih ingat kasus Iran yang menyita perhatian dunia internasional beberapa bulan yang lalu. Pada tanggal 4 Februari 2006, Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency atau IAEA) melaporkan Iran ke Dewan Keamanan PBB. Alasannya adalah karena Iran dituduh mengembangkan senjata nuklir dari program nuklir yang mereka jalankan. Meskipun Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, bersikeras bahwa proyek nuklir yang mereka jalankan adalah pengembangan teknologi nuklir untuk keperluan pembangkit listrik, proyek pengayaan uranium Iran tetap didesak untuk dihentikan dengan segera. Walaupun demikian, sampai saat ini Iran masih terus mengembangkan teknologi nuklirnya, dan Amerika, sebagai negara yang pertama kali mengembangkan senjata nuklir –juga sebagai negara yang paling vokal dalam menentang program nuklir Iran–, terus melancarkan usaha-usahanya untuk menghentikan program nuklir Iran dan negara-negara lainnya yang dianggap mengembangkan senjata nuklir –atau dianggap tidak pantas mengembangkan teknologi nuklir– oleh Amerika.

Jika melihat kasus diatas, nuklir tentu bukanlah sebuah barang yang dengan mudahnya dimiliki, diteliti, atau dikembangkan oleh suatu negara. Dengan mengambangkan nuklir, sebuah negara dapat menunjukan bahwa dia mempunyai kekuatan dan kedaulatan. Amerika, sebagai negara superpower yang merasa “lebih’ dari segala hal dibandingkan dengan negara-negara lainnya bertindak sebagai pengawas dan pengatur siapa saja yang berhak mengembangkan dan memiliki teknologi nuklir.

Mengapa Amerika begitu takut jika ada negara yang tidak dikehendakinya mengembangkan nuklir melakukan penelitian dan pengembangan nuklir, tidak peduli teknologi nuklir itu bertujuan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan sumber energi listrik, bukan untuk perang. Tetapi memang wajar jika Amerika berwaspada. Nuklir bukanlah sekadar pistol berpelatuk, dia bisa menghancurkan apa saja dengan cepat dan dalam radius yang panjang dari jarak yang jauh. Akanlah sangat wajar Amerika tidak tenang jika negara yang mengembangkan nuklir adalah negara yang secara ideologis dan kepentingan tidak sesuai dengan Amerika. Suatu saat, negara itu akan menjadi ancaman bagi Amerika. Kemampuan sebuah negara mengembangkan teknologi nuklir memberikan implikasi negara tersebut mempunyai otoritas dan kedaulatan dan dipandang sebagai negara yang diperhitungkan di dunia internasional.

Kekhawatiran yang muncul berkaitan dengan nuklir adalah kenyataan bahwa nuklir pertama kali digunakan bukan sebagai sumber energi atau tenaga listrik, tetapi sebagai senjata pemusnah massal. Dan agaknya, nuklir memang lebih populer sebagai senjata. Sehingga, diskursus yang muncul berkaitan dengan nuklir sebagai simbol kedaulatan suatu negara lebih berkenaan dengan nuklir sebagai senjata yang berbahaya sehingga negara yang menjalankan program nuklir dikhawatirkan menjadi ancaman bagi negara lainnya yang berseberangan secara ideologi dan kepentingan dengan negara tersebut, sebagaimana yang terjadi dalam kasus Iran dan Korea Utara dengan Amerika.

Jika melihat daftar negara yang pernah –atau setidaknya diduga pernah – memiliki dan mengembangkan teknologi nuklir, kita akan menemukan jumlah yang tidak terlalu banyak. Negara-negara yang kita temukan pada daftar tersebut kebanyakan adalah negara-negara yang sudah dikenal namanya sebagai negara yang pernah berpengaruh besar dalam sejarah dunia. Karena pada awalnya nuklir dikembangkan sebagai senjata, tercatat ada delapan negara yang pernah melakukan uji coba senjata nuklir. Lima diantara negara tersebut diberi status sebagai “negara dengan senjata nuklir” oleh Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty atau NPT) yaitu; Amerika Serikat, Rusia (bekas Uni Soviet), Britania Raya, Perancis dan Republik Rakyat Cina. Lima negara tersebut, yang kemudian menjadi Negara yang tergabung dalam Dewan Keamanan PBB. Dengan kata lain, negara yang berhak “menjaga keamanan” adalah negara dengan senjata nuklir.

Sebetulnya ada tiga negara lainnya diluar kelima negara tersebut sebelumnya yang pernah melakukan uji coba senjata nuklir. Ketiga negara tersebut adalah India, Pakistan dan Korea Utara. Israel, meskipun tidak pernah mengakui ataupun menyangkalnya, diyakini memiliki senjata nuklir. Dua ratus senjata nuklir pernah dilaporkan berada dalam persenjataannya. Sebetulnya masih banyak lagi negara-negara lainnya yang dicurigai mengembangkan senjata nuklir.

Dalam kasus Iran, terlihat dengan jelas bahwa meskipun Iran bersedia dengan senang hati menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan menyatakan program nuklir yang dijalankannya adalah untuk tujuan damai (sebuah hak yang seharusnya dijamin oleh Perjanjian Nonproliferasi Nuklir), CIA dan beberapa negara barat mencurigai bahwa hal tersebut sebenarnya untuk menutupi program untuk pengembangan senjata nuklir dan mengklaim bahwa Iran memiliki sedikit kebutuhan untuk mengembangkan tenaga nuklir. Pertanyaannya adalah, kenapa tidak semua negara diberikan hak dan kebebasan untuk mengembangkan teknologi nuklir, sekalipun untuk tujuan damai dan kemajuan iptek? Mengapa Amerika bersikeras menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya? Mengapa karena alasan kepemilikan senjata nuklir juga Amerika menginvasi Irak dan ribuan jiwa penduduk sipil melayang, konflik berkecamuk, ketidakpastian, dan kekacauan pun terjadi, meskipun akhirnya terbukti Irak tidak mempuyai senjata nuklir? Sementara, kenapa Israel yang terbukti dengan meyakinkan berdasarkan laporan Badan Tenaga Atom Internasional yang mempercayai Israel memiliki senjata nuklir dibiarkan saja oleh Amerika dan DK PBB (padahal jelas-jelas Israel tidak pernah menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir)?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas cukup sederhana. Bahwa nuklir adalah sebuah barang yang dapat mengubah status suatu bangsa, dalam artian kemampuan suatu negara dalam mengembangkan teknologi nuklir berpengaruh besar terhadap wibawa negara tersebut dalam kancah internasional, di samping akan menunjukkan kekuatan negara tersebut. Dengan begitu, Negara-negara yang memegang otoritas nuklir saat ini (sebagaimana Amerika) tidak akan membiarkan negara-negara yang dianggap berseberangan kepentingan dan ideologi tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan Nuklir. Sejarah telah mencatat bahwa nuklir adalah bagian tak terpisahkan dalam menentukan kedaulatan, otoritas, pengaruh, dan kekuasaan suatu negara terhadap tata kehidupan internasional.

 

Rachmat Rhamdhani Fauzi

January 06, 2007

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: