EVOLUSI PENGETAHUAN: ESKALASI ATAU REDUKSI NILAI PERADABAN?

EVOLUSI PENGETAHUAN:

ESKALASI ATAU REDUKSI NILAI PERADABAN?

Rachmat Rhamdhani Fauzi

Niels Bohr dalam pernyataannya yang dikenal sebagai aforisme mengatakan, “Lawan setiap pikiran besar adalah pikiran besar lain”. Dan kita pun semakin tersentak-sentak dengan derasnya laju perkembangan ilmu pengetahuan. Penemuan dan teori sains bermunculan dengan akselerasi frekuensi yang mencengangkan. Bisa jadi, rumus-rumus fisika yang kini masih diajarkan pada anak sekolahan di pelosok desa sudah menjadi kebenaran usang karena di suatu fasilitas riset internasional telah ditemukan hukum baru, yang mendeklarasikan diri sebagai kebenaran yang baru. Meskipun dengan ilmu pengetahuan, manusia –lebih tepatnya sebagian manusia– hidup lebih mudah, hal ini harus dibayar mahal dengan semakin banyaknya masalah kehidupan, atau lebih jauh lagi masalah peradaban, yang bermunculan.

Sekarang pertemuan tidak harus dilakukan dalam satu tempat, dengan tele-conference faktor ruang bukanlah masalah. Dengan ditemukannya serat optik, cahaya pun sudah bisa digunakan sebagai media penyampai informasi sehingga transfer informasi bisa berlangsung dalam hitungan kecepatan cahaya. Namun di sisi lain, masalah yang ditimbulkan oleh kemajuan pun tidak kalah hebatnya dengan kemajuan itu sendiri. Masalah lingkungan seperti global-warming, masalah sosial seperti ketimpangan, masalah politik seperti instabilitas internasional, adalah beberapa contoh masalah serius dari sekian banyak masalah pada berbagai bidang kehidupan yang muncul sebagai dampak dari kemajuan pengetahuan. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa semakin kompleks fasilitas kehidupan yang tercipta, semakin kompleks pula problematika yang hadir.

Dengan semakin cepatnya fasilitas kehidupan berkembang, manusia pun semakin terobsesi untuk memiliki dan menikmati fasilitas kehidupan yang terbaru. Karena itu pula, motivasi hidup dengan mudahnya berlabel materialistik Karena tidak semua orang mendapatkan akses dengan mudah terhadap pengetahuan, muncul gap yang sangat jauh dalam berbagai faktor penentu kesejahteraan, antara orang kaya dengan orang miskin, antara negara maju dengan negara terbelakang, antara yang tertindas dengan yang ditindas.

Kemajuan secara disadari atau tidak, menyebabkan tumbuhnya keserakahan dan ego. Einstein mungkin menyesali terobosan besar yang dilakukannya dengan menemukan rumus E=mc2, yang menyatakan bahwa energi berasal dari materi dan bisa diciptakan dari materi. Karena dengan itu bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945, sebuah tragedi kemanusiaan yang menyedihkan. Sekarang, negara yang menjadi “penguasa” dunia adalah negara pemilik pengetahuan dan teknologi senjata pemusnah massal. Semua anggota Dewan Keamanan PBB adalah negara yang diberi status “pemegang senjata nuklir” oleh Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty atau NPT). Karena ada perkembangan pengetahuan juga, suatu negara yang mempunyai kekuatan besar mampu ikut campur dalam mengatur negara lain, walaupun untuk hal itu harus diawali dengan invasi militer yang mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Berkaitan dengan kebiasaan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan juga dapat menyebabkan perilaku konsumtif yang berlebihan pada pihak-pihak (bisa merupakan individu, negara, institusi, atau kelompok tertentu) yang menggenggam kekuasaan, baik secara finansial maupun politis. Sifat dasar manusia yang tidak pernah puas dan selalu ingin merasakan buah ilmu pengetahuan (baca: produk hasil penemuan) terbaru menggambarkan betapa ilmu pengetahuan mendorong manusia untuk lebih bersifat “menghabiskan”.

Telah terbukti bahwa kemajuan pembangunan masyarakat dunia telah secara buas mengeksploitasi bumi. Jumlah konsumsi masyarakat dunia saat ini sudah melebihi kapasitas produksi bumi itu sendiri. Ke depannya, keadaan ini akan semakin bertambah parah. Karena kemajuan ilmu pengetahuan, laju konsumsi manusia meningkat secara signifikan. Secara tidak langsung hal ini menyebabkan munculnya imperialisme jenis baru, yakni pengerukan dan distribusi hasil produksi bumi yang tidak adil. Negara-negara maju yang kebutuhan konsumsinya melebihi kemampuan produksi SDA dalam negerinya mengambil kekurangan untuk konsumsi mereka dari SDA di negara-negara dunia ketiga. Hasilnya, ketimpangan kualitas kehidupan dan ironisme paradoks kekayaan alam dengan tidak sejahteranya rakyat, seperti yang terjadi di Indonesia dan negara dunia ketiga lainnya.

Satu hal yang perlu direnungkan, sejarah telah mencatat bahwa semakin hari dunia bergerak semakin maju dan berkembang, berbanding lurus dengan munculnya berbagai masalah yang mengiringinya. Sebuah pertanyaan besar akan nasib peradaban di masa yang akan datang “Apakah semakin pesatnya kemajuan ini menandakan bahwa kita semakin dekat dengan kehancuran massal ataukah justeru dengan kesejahteraan global?”.

Dua kemungkinan yang mungkin terjadi pada masyarakat dunia adalah kekacauan atau keteraturan, ketidakstabilan atau kesejahteraan. Dunia ini semakin hari semakin tidak stabil, sesuai dengan hukum chaos yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini bergerak menuju kekacauan. Pemikiran ini didasari keyakinan bahwa setiap benda akan rusak. Kayu lapuk, sementara besi berkarat. Hukum kekacauan ini akan tampak masuk akal jika obyeknya berupa materi.

Lantas seberapa relevankah jika obyek yang dikenai hukum itu adalah peradaban? Jawabannya sangat relevan. Melihat realitas, kita tentu makin menyadari bahwa dunia ini memperlihatkan tanda-tanda menuju kehancuran. Sistem kehidupan yang semakin tidak rasional ditunjukkan oleh perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan segala sesuatu berlangsung pada dunia virtual. Ekonomi yang berkembang terkonsentrasi pada sektor finansial yang tidak konkret dan menyebabkan ketidakmenentuan harga atau nilai pada range yang sangat jauh. Semakin rumitnya birokrasi menunjukkan ke-tidak efektif-an tatanan kehidupan. Secara implisit, perang terjadi dengan ditentukan oleh penguasa. Penindasan militer secara fisik dikatakan sebagai upaya menjaga perdamaian dunia. Semua itu adalah buah dari keserakahan, ego, dan orientasi-materialis yang mengakar pada sendi-sendi kehidupan.

Namun, di sisi lain, sebagaimana yang tersebut dalam aforisme Bohr, pemikiran bahwa kita menuju pada kehancuran harus dilawan dengan pemikiran besar lain, yaitu sebetulnya mungkin kita sekarang tengah menuju kepada kesejahteraan global.

Perkembangan ilmu pengetahuan kian hari justeru semakin banyak menimbulkan pertanyaan daripada jawaban. Ilmu pengetahuan semakin membuat manusia terheran-heran. Setelah era Geometri Euclidian, muncul Geometri Tipologi. Setelah era Newton dengan fisika klasiknya, muncul Einstein dan Hawking dengan relativitas dan mekanika kuantum. Banyak dari penemuan baru malah justeru meneror rasionalitas. Terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab berkaitan dengan apa sebetulnya yang disebut sebagai “kenyataan”. Sebagai contoh, apa yang terjadi pada kehidupan manusia setelah dia dapat mencapai kecepatan cahaya? Segala sesuatunya menjadi serba tidak jelas dan kabur karena dimensi waktu dan ruang berbaur dalam suatu keadaan yang tidak dapat dipikirkan akal manusia.

Pada gilirannya, semua kebingungan itulah yang justeru akan mengantarkan manusia pada pertanyaan paling mendasar dari semua pertanyaan. “Darimana kita berasal? Untuk apa kita hidup? Kemanakah kita setelah tiada?”. Dengan demikian, jelas, modernitas justeru akan tergeser oleh spiritualitas. Nilai-nilai dasar spiritualitas inilah yang akan membawa manusia kepada Tuhan. Muncul pemahaman bahwa kebahagiaan adalah memberikan kebahagiaan bagi orang lain, karena motivasi hidup bukan lagi sekedar menyenangkan diri sendiri. Dengan begitu, kesejahteraan global dapat tercapai sebagai dampak dari kesadaran global.

Lantas, kemungkinan yang manakah yang akan terjadi? Apakah yang akan menimpa peradaban? Kehancuran ataukah kesejahteraan? Reduksi atau eskalasi? Hanya waktu dan sikap manusia terhadap kebenaran yang akan menjawabnya. Evolusi pengetahuan hanyalah proses perkembangan instrumen dan fasilitas. Sementara, akan digunakan untuk apa fasilitas itu, bergantung kepada sejauh mana kesadaran manusia terhadap makna keberadaan dirinya.

<!–[if !supportFootnotes]–>


<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[*]<!–[endif]–> Penulis adalah Mahasiswa Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia,

Aktivis Program Pembinaan SDM Strategis (PPSDMS) Regional Jakarta.

  1. 🙂

    • rachmatrf
    • May 1st, 2007

    🙂

  2. salam dari Rachmat bersaudara🙂

      • rachmatrf
      • May 31st, 2009

      salam juga rachmat

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: