ARSITEKTUR DAN EKSISTENSI ORGANISASI

Rachmat Rhamdhani Fauzi 

Arsitektur adalah bidang keilmuan yang belum lama ini saya kenal. Saya baru berkenalan dengan arsitektur semenjak lebih dari enam bulan yang lalu. Karena, meskipun saya kuliah pada bidang studi Arsitektur, pada semester awal saya belum mendapatkan mata kuliah apapun tentang arsitektur. Saya baru bersentuhan langsung dengan arsitektur ketika untuk pertama kalinya belajar mata kuliah Pengantar Arsitektur. Meskipun baru pengantar, saya seolah diajak memasuki dunia baru. Pada waktu itu saya mulai mengetahui berbagai hal dasar dalam arsitektur.

Ada salah satu materi yang menarik bagi saya. Sebuah materi dasar dalam mempelajari atsitektur. Materi tersebut adalah tentang  hal-hal dasar yang harus dipenuhi oleh sebuah bangunan. Teori ini lahir dari pemikiran Vitruvius. Dalam bukunya yang sangat fenomenal, yang menjadi buku wajib bagi semua orang yang mempelajari ilmu aresitektur yaitu Ten Books on Architecture, dijelaskan tentang konsep dasar yang harus dipenuhi oleh sebuah bangunan. Arsitektur harus mencakup seluruh konsep dasar tersebut dengan baik jika ingin menghasilkan karya yang baik. Konsep dasar tersebut adalah tentang Firmitas, Utilitas,danVenustas.

Firmitas, Utilitas, dan Venustas adalah tiga aspek utama yang menurut Vitruius harus ada dalam sebuah bangunan. Firmitas adalah kekokohan. Firmitas sering disebut juga durabilitas, artinya ketahanan sebuah bangunan dalam mengarungi waktu. Dengan kata lain, sebuah bangunan dikatakan memenuhi unsur Firmitas dengan baik jika ia dapat berdiri dengan baik dan tahan untuk dapat berdiri dengan baik dalam jangka waktu yang cukup lama, sesuai kebutuhan awal dibuatnya bangunan tersebut. Firmitas adalah ketahanan fisik sebuah bangunan. Yang paling menonjol dalam firmitas adalah kekuatan bangunan, sehingga bangunan tersebut aman untuk digunakan.

Utilitas adalah keberhasilan sebuah bangunan dalam memenuhi fungsinya. Utilitas sering disebut juga sebagai komoditas. Utilitas adalah keberhasilan sebuah bangunan dalam memenuhi atau mengakomodasi kebutuhan pemakainya. Komoditas atau utilitas berhubungan dengan kenyamanan yang diberikan oleh sebuah bangunan terhadap pemakainya. Utilitas banyak mempelajari efektivitas pembagian ruang, akses, detail properti dan hal lainnya yang menunjang fungsi sebuah bangunan.

Aspek keindahan adalah hal yang diketengahkan oleh fungsi Venustas sebuah bangunan. Sebuah bangunan dapat dikatakan sebagai bangunan yang baik jika indah dan mempunyai nilai estetika yang baik. Venustas adalah tentang bagaimana cara meramu bentuk, warna, proporsi, skala, komposisi, tekstur, dan wujud sebuah bangunan menjadi sesuatu yang indah dan enak dilihat.

Akhirnya saya menemukan sebuah fenomena yang mungkin agak aneh. Saya sangat merasakan adanya keterkaitan yang sangat kuat antara tiga konsep dasar arsitektur yang saya sebutkan di atas dengan eksistensi sebuah organisasi. Seorang pendiri atau pemimpin suatu organisasi sepertinya harus belajar dari arsitektur tentang konsep bangunan menurut Vitruvius tadi. Meskipun, dalam hal ini, arsitektur dan kepemimpinan tidak memiliki suatu hubungan yang langsung, tiga konsep dasar tadi sepatutnya dapat dimaknai lebih oleh seorang pemimpin organisasi daripada sekadar hal yang mendasari perancangan sebuah bangunan.

Inti persoalannya adalah bagaimana kita dapat mengganti objek bangunan dengan organisasi dalam menerapkan tiga konsep dasar arsitektur tadi, yaitu Firmitas, Utilitas, dan Venustas. Sungguh, ketiga hal tadi dapat diterapkan secara tepat dalam mengkaji pergerakan sebuah organisasi. Dan pada gilirannya, sejauh mana sebuah organisasi dapat menerapkan konsep dasar dalam arsitektur tadi akan berakibat pada sejauh mana eksistensi organisasi tersebut.

Suatu organisasi harus mempunyai kekokohan atau kesolidan dalam hal strukutral. Sebuah bangunan organisasi hanya bisa berdiri dengan baik jika dia dengan benar-benah memperhatikan konsep durabilitas, atau kekokohan dalam pendiriannya dan pengelolaannya. Sebuah bangunan organisasi dapat bertahan dan eksis dalam waktu yang lama ketika organisasi tersebut menerapkan fondasi visi, misi,dan idealisme yang kokoh dan kuat pada awal pendiriannya, dan dindingnya dibangun dengan bahan-bahan SDM yang kuat, serta dinaungi oleh atap regulasi yang solid. Dengan demikian salah satu aspek dasar arsitektur yang harus dimiliki oleh sebuah orgnisasi dalam membuktikan sejauh mana dia bisa eksis dan bertahan adalah konsep Firmitas.

Tujuan yang termaktub dalam fondasi visi, misi, idealisme didirikannya organisasi adalah hal penting yang harus direalisasikan dan diejawantahkan dalam kinerja pergerakannya. Dengan demikian kelangsungan hidup sebuah bangunan organisasi adalah ketika dia dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Sebuah bangunan organisasi akan tetap eksis ketika dia dapat mengakomodasi kebutuhan setiap pihak yang terkait dengannya. Maka dari itu, konsep utilitas atau komoditas arsitektur menjadi hal yang tidak terpisahkan dari organisasi.

Bagaimana suatu organisasi membangun citra adalah hal yang perlu diajukan ketika kita berbicara tentang cara-cara organiasasi tersebut dalam menjalankan fungsinya. Indahkah? Dapat bermain cantik-kah Dia? Maka mau tak mau agar organisasi tersebut dihormati dan dihargai harus melalui cara-cara yang indah dalam mengambil setiap keputusan. Bangunan organisasi yang senantiasa dinantikan keberadaannya adalah bangunan organsasi yang indah. Yang dapat berlaku baik dan cantik lewat setiap ornamen gerakan dan pencitraannya. Dengan demikian, konsep dasar Venustas dan Estetika adalah hal yang urgen dalam mempertahankan eksistensi suatu organisasi.

Demikianlah, mungkin arsitektur akan tidak diperhatikan dan cenderung dipandang sama sekali tidak berhubungan dengan kepemimpinan ketika kita tidak mencoba menemukan hal-hal yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang kebanyakan. Kesimpulannya, bangunan organisasi dapat senantiasa eksis ketika dia membangun fondasi, dinding,dan atap yang kokoh (Firmitas), berfungsi dengan baik (Utilitas),dan memiliki citra yang baik karena dapat bermain indah dan cantik (Venustas). Dan mungkin Vitruvius akan tertarik masuk ke dunia politik ketika tahu bahwa konsep dasarnya akan arsitektur ternyata sangat relevan dengan pendirian sebuah institusi.

Jakarta, 9 September 2006

  1. January 9th, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: