MEMPERTANYAKAN PROYEK MERCUSUAR SOEKARNO SEBAGAI IDENTITAS INDONESIA DALAM KERANGKA NASIONALISME

MEMPERTANYAKAN PROYEK MERCUSUAR SOEKARNO SEBAGAI IDENTITAS INDONESIA DALAM KERANGKA NASIONALISME

Rachmat Rhamdhani Fauzi

Adalah benar jika menyatakan bahwa Soekarno merupakan seorang pemimpin besar, dan tokoh besar sepanjang sejarah Republik Indonesia. Namun, agaknya perlu ditinjau kembali jika rumusan Soekarno tentang fundamen Nation and Character Building yang terejawantah dalam proyek-proyek mercusuar Soekarno adalah representasi identitas bangsa Indonesia. Apakah “wajah” bangsa Indonesia dapat dengan mudahnya terlihat melalui karya-karya mercusuar Soekarno seperti Gelora Senayan, Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, Gedung MPR DPR, dll? Lebih jauh lagi, benarkah jatidiri Arsitektur Indonesia dimulai seiring dengan lahirnya NKRI pada 17 Agustus 1945? Benarkah bangunan-bangunan yang lahir setelah itu melalui politik mercusuar Soekarno menentukan tonggak awal identitas arsitektur Indonesia.

Sejarah telah mencatat bahwa pembangunan proyek-proyek mercusuar menghabiskan dana dalam jumlah yang besar. Pada waktu itu, kondisi negara Indonesia masih sangat labil dan penuh dengan ketidakpastian. Sebagai negara yang baru lahir, Indonesia memerlukan penataan di berbagai bidang. Dasar hukum, Sistem Ekonomi, Administrasi, masih dalam tahap perumusan. Demikian juga yang terjadi dengan Arsitektur. Muncul pendapat bahwa platform Arsitektur Indonesia pun dibangun pada saat Negara ini berdiri.

Agaknya untuk sampai pada kesimpulan apakah Proyek Mercusuar Soekarno adalah representasi identitas Bangsa Indonesia dan identitas Arsitektur Indonesia, perlu redefinisi dan kesepakatan terlebih dahulu seperti apa Indonesia dan seperti apa Arsitektur Indonesia. Akan sangat sulit untuk mengobyektifikasi definisi Arsitektur Indonesia. Namun, pendekatan dapat dilakukan dengan melihat sejarah Indonesia. Indonesia sebagai negara yang multi-culture mempunyai beragam adat, budaya, suku, bahasa, sistem hidup, agama dan kepercayaan. Tidaklah mengherankan jika arsitektur pada rumah-rumah tradisional Indonesia menjadi berbeda satu dengan yang lainnya. Arsitektur lokal dapat dipahami sebagai arsitektur tradisional yang tertuang dalam rumah-rumah adat yang muncul dari kebudayaan masyarakat setempat dan telah diwariskan selama berabad-abad dari nenek moyang. Tetapi untuk mensintesis diversitas yang ada demi menciptakan kesatuan arsitektur ke-Indonesia-an dan menghindari pragmatisme makna dari arsitektur lokal adalah pekerjaan yang sulit. Benang merah dapat ditarik dengan melihat kesamaan yang ada dari sekian banyak keberagaman. Dengan demikian, jatidiri Arsitektur dapat dilihat dengan mengembalikan arsitektur apa yang dibangun oleh orang Indonesia/pribumi. Dan hal itu tentunya berkaitan dengan arsitektur bangunan yang bersahabat dengan iklim, cuaca, alam, dan sesuai dengan adat kebudayaan konservatif setempat. Secara fisik, arsitektur seperti ini dapat terlihat dari atap miring, adanya panggung, dll.

Arsitektur yang dibangun oleh Soekarno melalui Monas, Hotel Indonesia, Gelora Senayan, Istiqlal, dll sepertinya tidak memperlihatkan arsitektur lokal atau arsitektur tradisional. Sebaliknya, yang muncul justeru international style, dan langgam-langgam lain yang hadir dalam arsitektur modern –yang dalam hal ini tumbuh dan berkembang di Eropa dan Amerika–. Arsitektur yang muncul lebih memperlihatkan pemikiran paradigmatik kontemporer Barat yang lebih bersifat Eropa/Amerikasentris dengan menafikan arsitektur lokal atau tradisional.

Terlepas dari pro-kontra seputar proyek mercusuar Soekarno yang menyebabkan inflasi hingga 600 %, menggusur tanah dan rumah warga Betawi, dan (disebut-sebut) menyengsarakan rakyat akibat alokasi dana kesejahteraan rakyat kurang diperhatikan, secara arsitektur, tidak akan terlihat entitas dan perspektif yang spesifik dari masyarakat, budaya, kepercayaan, patronage, dan sejarah lokal dalam proyek-proyek mercusuar Soekarno.

Kesimpulan yang dapat diambil, dalam konteks semangat nasionalisme dan kemerdekaan, proyek mercusuar Soekarno, menunjukkan sikap yang paradoksal. Di satu sisi, dengan slogan Nation and Character Building-nya Soekarno ingin membangun Indonesia yang tampak kuat dan besar sebagai bentuk perlawanannya terhadap kolonialisme dan imperialisme. Di sisi lain, penolakan terhadap hegemoni Barat dilakukan dengan mengusung paradigma rasionalisme dan modernitas-progresif yang tetap menggunakan jargon-jargon dan ikon-ikon budaya dan arsitektur Barat. Arsitektur Modern diadopsi secara langsung sebagai bentuk perlawanan oleh rezim postkolonial atau nasionalis (baca: rezim Soekarno).

Jakarta, 8 April 2007

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: